Tikam Samurai Bagian V - Makmur Hendrik

Selasa, 11 Mei 2010.
Tikam Samurai (Bag 5) 

Di halaman, enam depa dari kedua tubuh ayah dan ibunya, si Bungsu masih tetap tertunduk. Dia tak berani bergerak sedikitpun. Meski di halaman itu hanya ada seorang serdadu, dan serdadu itu tegak sebelas depa dari¬nya, membelakanginya pula. Menghadap ke belakang rumah. Namun si Bungsu tak pernah punya keberanian sedikitpun untuk tegak mendekati tubuh Ayah dan Ibunya.


Dia juga tak punya keberanian untuk menolong kehor¬matan kakaknya yang dirajah Saburo Matsuyama di atas rumah mereka. Tidak. Dia memang tak punya keberanian sedikitpun selama ini. Keberaniannya hanya satu. Yaitu main judi. Tapi kini apa guna kepandaiannya yang satu itu? Sebagai anak lelaki dia anak lelaki yang ”tak lengkap”, betapapun dia pernah amat membanggakan ”ilmu” judinya.
Di kamar di atas rumah gadang itu, kakak si Bungsu tiba-tiba tersadar. Dia merasa lehernya pedih dan panas. Merasa ada nafas mendengus di wajahnya. Merasa tubuhnya disimbahi peluh. Merasa ada beban berat menghimpitnya. Dan tiba-tiba dia memekik dan melambung tegak. Tapi pekiknya terhenti tatkala Saburo menyabetkan samurai¬nya.

Gadis itu terkulai ke jendela. Dia menutup dadanya dengan tangan. Matanya menatap sayu ke halaman. Menatap pada mayat ayah dan ibunya. Dan matanya terhenti pada wajah si Bungsu yang masih duduk berlutut dan meman¬dang padanya. Bibir gadis itu bergerak. Seperti bicara pada adiknya. Namun tak ada suara yang keluar. Matanya segera layu. Dan kepalanya terkulai ke bendul jendela. Si Bungsu masih terpaku di tempatnya dengan penuh ketakutan. Tertunduk dengan diam.
Tak lama kemudian dia lihat Kapten Saburo Matsuyama turun dari rumah sambil melekatkan ikat ping¬gang. Di halaman dia terhenti tatkala terpandang pada si Bungsu. Dia segera ingat pada sumpah Datuk Berbangsa. Ingat pada sumpahnya yang akan menuntut balas. Siapa yang akan menuntutkan balasnya selain dari anaknya ini? Dengan kesimpulan begitu dia lalu mendekati si Bungsu. Takut Si Bungsu muncul.
"Aaaa..ampuun tuan. Ampuun!" dia bermohon¬-mohon dengan tubuh menggigil.......
Beberapa penduduk yang melihatnya dari kejauhan menjadi jijik dan mual melihat sikap anak muda ini. Mereka seakan ingin menginjak-injak anak muda pengecut itu. Benar-benar jahanam! Benar-benar laknat. Anak haram jadah!, maki mereka. Saburo memegang hulu Samurainya. Si Bungsu jadi terkejut. Dia tahu Jepang itu berniat membunuhnya. Dia segera bangkit. Sambil memekik minta ampun dia menghambur mengambil langkah seribu. Namun anak muda pengecut ini memang sial. Pedang Sa¬murai Saburo bergerak amat cepat. Punggungnya belah. Dia tersentak. Rubuh ter¬telungkup dengan punggung menganga mulai dari belikat kiri sampai ke batas pinggul. Sementara itu, kampung tersebut telah jadi lautan api. Pekik dan lolong ter¬dengar bersahutan. Perempuan-perempuan berpekikkan diseret ke bawah pohon. Diperkosa dan beberapa lelaki yang coba melawan dibantai dengan samurai atau ditusuk dengan bayonet.

Menjelang sore, kampung itu hampir rata dengan tanah. Asap mengepul di mana-mana. Burung elang dan gagak terbang rendah seperti melihat bangkai yang bergeletakan. Itu adalah penyembelihan yang tak terlupakan bagi penduduk di kampung itu. Tak kurang dari sepuluh nyawa melayang. Dan di pihak Jepang hanya 3 serdadu yang dimakan samurai di tangan Datuk Berbangsa. Beberapa rumah memang masih tegak dengan utuh, yaitu rumah-rumah yang tak berpenghuni. Serdadu Jepang itu sudah kembali ke Payakumbuh, dimana mereka bermarkas. Makin hari makin banyak jumlah mereka yang datang ke Minangkabau lewat Sumatera Utara. Kekuatan mereka dipencar ke beberapa kota utama di Minangkabau.

Sore itu hujan turun rintik-rintik. Membasahi kampung yang telah centang perenang itu. Hujan rintik-rintik itu juga seperti mencuci tubuh mayat-mayat yang bergelimpangan. Tak ada orang lain di kampung itu yang kelihatan hidup. Mereka semua melarikan diri. Menyelamatkan nyawa mereka dari kebiadaban serdadu Jepang. Jepang memang punya alasan untuk menyikat kampung itu hingga rata dengan tanah. Sebab kampung itu merupakan basis pertama dalam sejarah perlawanan rakyat di Minangkabau terhadap kekuasaan Jepang. Dan setelah Datuk Berbangsa sekeluarga dibunuh, kampung itu menjadi kampung tinggal buat sementara. Namun dari kesepuluh tubuh yang malang melintang itu ternyata masih ada yang hidup. Hujan rupanya mengembalikan kesadaran yang hidup itu. Di halaman rumah Datuk Berbangsa ada sosok tubuh yang bergerak. Mula-mula tangannya. Tubuh yang bergerak itu adalah si Bungsu!. Wajahnya tertelungkup rapat ke tanah. Dia rasakan punggungnya amat pedih dibasahi air. Dia masih terpejam. Namun tangannya digerakkan perlahan. Tercium bau tanah dan sawah yang harum dari angin yang bertiup dari kaki gunung Sago Terasa tetes air
Aku masih hidup...” bisik hatinya. Dia mencoba bertumpu di tangan untuk membalikkan diri. Tapi alangkah sulitnya. Dia menelungkup lagi diam-diam. Mengumpulkan tenaga, kini dia membuka mata. Mula pertama yang kelihatan adalah tanah halaman rumah di mana di waktu kecil dia bermain kelereng dan main galah. Lalu di tanah itu dia lihat air yang memerah. Itu pastilah darahnya.
Dia coba kembali merekat ingatannya. Mulai dari dia ditangkap beberapa malam yang lalu dekat sasaran rahasia itu. Dia mengetahui sasaran rahasia itu tatkala mengikuti ayahnya disuatu malam. Sejak terakhir dilanyau Baribeh dan si Jul, dia ingin sekali belajar silat. Tapi dia malu mengatakan kepada ayahnya. Dia tahu ayahnya amat malu mempunyai anak seperti dia. Anak yang bikin malu keluarga. Ayahnya seorang pendekar dan guru silat. Tapi anaknya seorang penjudi yang pengecutnya Allahurobbi. Ini selalu menjadi tekanan bathin bagi si ayah di manapun dia berada.

Dan suatu malam dia mengikuti ayahnya dari kejauhan. Dia melihat orang-orang berlatih silat di sasaran. Dia tahu sasaran itu adalah untuk orang-orang yang tingkat kepandaian sudah tinggi. Dia kenal pesilat-pesilat itu semua. Makanya dia tak berani menampakkan muka. Dia hanya mengintip dari balik belukar. Mengintip cara mereka melangkah, membuka serangan. Menangkis dan meloncat. Dia ingin sekali pandai bersilat. Tapi pada siapa dia akan belajar? Ayahnya sudah sering keluar. Nampaknya ada sesuatu yang penting yang diurus. Seperti menyusun suatu kekuatan melawan Jepang. Meski ayahnya tak ada di rumah. Si Bungsu tetap datang diam-diam ke sasaran itu tengah malam. Melihat orang berlatih. Bila orang selesai latihan, dia segera buru-buru duluan pulang agar tak ketahuan. Dan di rumah siang harinya, dia mencobakan gerakan yang dia lihat. Tapi alangkah sulitnya belajar tanpa guru. Sebab yang dia lihat bukanlah pelajaran dari awal. Melainkan pelajaran tingkat lanjut. Hanya sepekan dia sempat melihat orang latihan itu. Malam terakhir adalah malam di mana Datuk Maruhun tertangkap oleh serdadu Jepang.
Malam itu dia memang terlambat datang ke tempat pengintaiannya yang biasa. Dia terlambat karena hujan. Tetapi keinginan untuk belajar tetap menyala. Maka meski terlambat dan hujan masih turun, anak muda itu turun juga ke tanah. Dengan mengendap-endap dia mendekati sasaran rahasia itu. Dia melihat cahaya pelita yang samar-samar. Mendengar suara beradunya pedang dan keris. Dia lalu menyeruak ke dekat belukar kecil dimana biasanya dia mengintip. Namun tiba-tiba ada tangan yang menyekap mulutnya. Dia ingin berteriak dan berontak. Tapi dekapan itu amat kuat. Dan tak lama setelah itu, Jepang-Jepang itu telah mengepung sasaran tersebut. Dan dia didorong ke tengah sasaran. Datuk Maruhun menyangka dialah yang membuka rahasia keberadaan sasaran ini kepada Jepang. Sangkaan itu juga sama dengan semua pesilat yang ada di sasaran itu. Mereka menyangka si Bungsu membuka rahasia itu demi mendapatkan uang untuk berjudi. Malam itu dia menjelaskan duduk perkaranya pada Datuk Maruhun dan teman-temannya. Tapi adakah gunanya itu semua? Dia tahu bahwa orang kampungnya ini menganggap dia orang yang ”runcing tanduk”. Datuk itu memang sudah lama juga tak senang padanya. Yaitu sejak dia tak perduli pada pertunangan dengan gadisnya yang bernama Renobulan itu. Itulah sebabnya dia memilih berdiam diri saja meski dimaki dan dikutuk orang-orang kampungnya. Kini dia terbaring luka. Setelah merasa cukup punya kekuatan dia tidak berusaha untuk bangkit. Namun dia memutar tubuh dengan masih tetap menelungkup. Kepalanya kini menghadap ke rumah gadang di mana dia pernah lahir dan dibesarkan. Di halaman dilihatnya tubuh ayah dan ibunya tertelentang diam. Dia mengumpulkan tenaga. Merangkak mendekati mereka. Dekat mayat ayahnya dia berhenti. Bangkit dan duduk merenung. Dia tatap mata ayahnya yang terbuka menatap langit. Dia tutupkan mata ayahnya itu. Dia merasa malu lama-lama berada dekat mayat ayahnya. Malu karena perbedaan yang alangkah jauhnya antara dia dan si ayah. Ayahnya seorang Penghulu yang dihormati penduduk. Seorang guru silat yang jarang tandingannya. Tapi tiba pada dirinya, ternyata hanya mendatangkan aib bagi nama baik ayah dan keluarganya. Dia teringat pada ucapan ayahnya tatkala turun dari rumah. Yaitu ketika dia memanggil ibunya. Saat itu ibu, ayah dan kakaknya tertegun di tangga.
”Engkau memang dilahirkan untuk jadi dajal buyung. Saya menyesal mempunyai anak seperti engkau. Kau jual negeri ini berikut penduduknya pada Jepang semata-mata untuk mendapatkan uang agar kau bisa berjudi. Mengapa tak sekalian kini kau ambil kepala kami untuk kau jual?”

8 Comentários:

nak pantai mengatakan...

pagi kawan,! rancak caritonyo mah, ndak ado lanjutannyo.?

sagitarius boy mengatakan...

...thax kawan,, masih ado lnjutan-x,, saba yo kawan,, alun smpat buek posting baru lai..

Anonim mengatakan...

baa sampai disiko caritonyo...?
taruihkan lah.!

Anonim mengatakan...

bagi tmn2 yg lebih lengkap ceritanya kesini aja.
http://cunop.wordpress.com/2010/11/02/dari-kecamuk-perang-saudara-ke-dallas-menuntut-balas-episode-ii-573/

papa ab mengatakan...

ambo dapek caritonyo pula dari siko, cubo sanak caliak. http://kangzusi.com/Silat_Indonesia.htm

Arya mengatakan...

Ndeh....Tangguang..Sabananyo awak lah mambaco carito ko di Cerbung Singgalang dulu...Tapi masih lamak diulang.....

syamsurizalhas mengatakan...

Saya pernah membaca "tikam samurai" cerbung di koran "haluan" padang 30-an tahun yg silam (kalau tak salah) Pengarang Sdr. Makmur Hendrik seniman dari Riau. Kenapa dalam blog Anda ini yang berisi "tikam samurai" tidak ada membawa nama Makmur Hendrik...?

Andy Moelyadi mengatakan...

Iya ya, koq menampilkan karya orang lain tak menyebutkan sumber/pengarangnya?! Jelas sekali, Tikam Samurai itu dikarang oleh Bpk. Makmur Hendrik, seniman/tokoh dari Riau. Diterbitkan pertama kali oleh Pena Emas, Padang, sekitar thn 1983. Sebuah novel yg berlatar perjuangan yang luar biasa................

Poskan Komentar

 

SanK Shichiro
© Copyright 2010 | Design By Sagitarius Boy |